Cycling Reference
Tips & Trick
Health & Fitness
Ensiklopedia
Bike Part & Review
Home » Bike News

Trek Sepeda Waringin Kurung – Cibangkong, Tour De Cilegon

Submitted by on 18 April 2011 – 04:44 4 Comments

Minggu pagi, 17 April 2011, merupakan pagi yang kami tunggu. Rencana awal, pagi itu, bersama dengan rekan-rekan dari MUTIARA BIKE COMMUNITY (MBC), kami hendak melancong gowes ke daerah Cilegon-Banten, dengan tujuan awal TREK SEPEDA GUNUNG PINANG, trek fenomenal yang digunakan sebagai lintasan salah satu seri KEJUARAAN DOWNHILL NASIONAL. Beeuh…seru nih sepertinya 🙂

Sedikit missing dalam perencanaan, loading sepeda yang sedianya dilakukan di malam hari sabtu sebelumnya, dengan harapan selepas subuh kami sudah on the way dan sampai tujuan sebelum pukul 7 teng, ternyata di luar perkiraan. Mobil Pick-up yang hendak ‘ditumpangi’ sepeda kesayangan ternyata baru ‘hadir’ minggu pagi itu juga. Hiks..hiks..hiks…Nampaknya emang benar ungkapan klise “Manusia memang bisa merencanakan, Tuhan yang memutuskan”, betul  tidak?

Kira-kira pukul 1/2 tujuh-an rombongan baru berangkat (not so bad lah daripada kagak berangkat sama sekali,hehe…). Personil MBC terbagi menjadi dua mobil, 6 orang berada di ‘Taruna’nya Mas Bambang Priyambada, 3 orang+sepeda menaiki ‘Pick-up Jantan’nya Abang Sobri. Oiya, rasanya kurang pas jika tidak disebut secara lengkap siapa saja yang ada dalam rombongan MBC kala itu, berikut detilnya:

  1. Mas Bambang Priyambada (beserta keluarga), dengan Mosso Hitam-nya
  2. Budi, dengan Leonis Hitam juga, sehitam xxxxx-nya
  3. Bang Martin Luther, dengan Cozmic DX Putih-Biru-nya
  4. Andik, nyang sekaligus merangkap mechanic, dengan Venzo masih juga dengan warna putih dulu warnanya sempet merah
  5. Pak Didi Permana, dengan Trill Putih juga
  6. Pak Dhe Supri, dengan Eagle…—apa ya Pak Dhe nama panjangnya?—, lagi-lagi putih juga
  7. Abang Sobri, dengan Dominate 011 putih maning…
  8. Pak Ferdi, dengan Da Bomb…ya ampun putih lagi…
  9. dan saya, Agung dengan Ibis Mojo SL Putih Dominate 012, ehem..ehem…putih juga

Perjalanan menuju Cilegon, awalnya berlalu dengan mulus. Namun, ketika memasuki kilometer 65-70an Tol Jakarta-Merak, telpon Mas Bambs berdering, rupanya panggilan dari Budi di ujung telpon lainnya, melaporkan kalo Pick-up yang mereka tumpangi mogok. Whaaaaattttt????? Kami semua H2C (Harap Harap Cemas), mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada sepeda kami rekan-rekan kami beserta seisi mobil tersebut. Rupanya, masalah Timing Belt, emang dasar mobil sudah terlalu lama tidak dibawa pergi jauh, saat sebelum berangkat pun mungkin kurang ‘medical’ check up (sotoy-mode on).

Meski sempat mengalami trouble mogok tersebut, masalahpun teratasi, dan perjalanan pun berlanjut. Sampai akhirnya kami tiba di tujuan, starting point. Sambutan sederhana penuh makna persahabatan pun disuguhkan rekan-rekan dari KOMUNITAS SEPEDA ‘DJELADJAH’. Pisang goreng pangah… (saking panasnya), serta bungkusan nasi uduk menjadi pembuka Tour ini. Tanpa basa-basi beberapa rekan MBC pun langsung ‘menghajarnya’. Tak nampak gurat kekesalan dari ‘shohibul bait’ a.k.a tuan rumah, karena menanti kami terlampau lama sehingga jadwal jam gowes mereka pun mundur-semundur-mundurnya, hehe….

KOMUNITAS SEPEDA DJELADJAH, sepertinya saya tidak salah tulis, ya.. nama komunitas sepeda yang ditulis dengan ‘edjaan jang disempoernakan tempoe doeloe’, ejaan ‘naskah proklamasi kemerdekaan’ yang digunakan sebuah komuntas sepeda dimana anggotanya juga –ketika kami jumpai—orang-orang ‘sepuh’ tersebut. Kondisi umur beberapa personil ‘Djeladjah’ membuat beberapa rekan ‘under estimate, “wah…kita bakal dibawa Fun Bike nih…” –sorry ye bro, dengan sedikit bahasa hiperbolik saja, biar artikel ini terasa lebih menarik 🙂 —

Menginjak ke acara pemberangkatan Tour De Cilegon, kami memulainya dengan perkenalan singkat rekan-rekan ‘Djeladjah’ yang akan memandu kami dari MBC, dan doa. Dari ‘Djeladjah’  –yang saya ingat—ada Pak Sapto, selaku Captain Rider (pria paruh baya, berumur 25tahun+27tahun ini, konon menghabiskan waktunya dalam seminggu untuk sepedaan, baik kala shift kerja pagi, dengan bike to work, kala shift siang maupun malam hari). Kemudian ada Pak Mu’az (lebih pas kalo kami mendeskripsikannya sebagai ‘Aki’ Mu’az, mungkin beliau yang paling senior di komunitas ini, seorang pensiunan, yang juga sudah lama banget sepedaan). Terus, ada Pak Reka, pria ber-helmet kuning (usia kami taksir antara 45 s.d 50tahunan), dan Pak Rasyid…

Perjalanan bersepeda pun kami mulai.. Karena waktu start yang kelewat siang, rencana awal perjalanan melalui TREK SEPEDA GUNUNG PINANG pun dibatalkan. Tujuan touring dialihkan melalui TREK SEPEDA WARINGIN KURUNG – CIBANGKONG, diawali dengan trek dengan dominasi jalan cor beton dan aspal kasar di tengah pemukiman, kontur trek pembuka ini masih menunjukkan kondisi ‘side ways’ sedikit naik, sedikit turun dan sedikit ‘liku’… Apakah benar ini Perjalanan ‘Fun Bike’? Nampaknya demikian… Tapi ternyata kami salah, satu persatu goweser baik dari rombongan tamu dan tour guide mulai memacu sepedanya dengan sedikit demi sedikit ‘ngibrit’. Kami pun secara tidak langsung dipaksa menyesuaikan ritme teknik handling bersepeda dan nafas biar kagak ngos..ngos..ngos…

Lepas dari pemukiman, gradasi trek berubah menjadi beberapa ladang terbuka dengan ilalang, dan kemudian masuk di zona ‘hijau’ dengan pemandangan kanan kiri kebun melinjo, meski masih dengan jalan aspal kasar akibat gerusan panas, hujan dan roda-roda moda yang pernah lalu-lalang. Kayuhan pedal pun perlahan semakin berat, taksiran kami ini sudah masuk zona 10, 15, 20, 25, ya..apa lagi kalo bukan nanjak, dan angka-angka tersebut sebagai penunjuk besaran derajat kemiringan. Welcome to the real bike track!

Pemberhentian pertama, sampailah pada sebuah pertigaan, nampak interval antar goweser dalam rombongan kami kian mulai jauh kala saat itu. Captain rider, Pak Sapto memutuskan untuk berhenti menunggu anggota rombongan sampai yang terbelakang, untuk memastikan tidak ada rekan yang tercecer dan tersesat. Niatnya memang cuman memastikan arah seluruh rombongan benar, belok kiri, namun ternyata lebih dari itu… apa lagi kalau bukan ‘ngos…ngos…ngos…’ Hmm…mulai terbukti di sini, kalau ternyata belum tentu yang muda lebih prima dari ‘aki-aki’…betul tidak?…Ini belum seberapa Bung!

Announcement: Bagi yang baca artikel ini dengan iringan musik cadas, heavy metal, Hip Hop dan R & B boleh lah…silahkan keraskan volumenya. Namun bagi yang baca posting saya ini dengan iringan dangdut atau campur sari…silahkan matikan tape atau mp3 player Sobat. Tidak bermaksud jelek dengan selera musik Sobat, cuman biar feel deskripsi trek-nya dapet gitu…oke?

Mari Bung rebut kembali lanjut kembali! dan setelah beberapa menit kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Dan, Eng..ing..eng…belum sampai 20 menit setelah gowes dari pemberhentian pertama, tiba saatnya kami bertemu pujaan hati tantangan sebenarnya dari perjalanan ini, tanjakan panjang yang lumayan ekstreem, 35-40derajat, kondisi jalan aspal kasar berbatu. Teknik cycling yang benar sangat berperan di sini untuk mendapatkan tenaga dan kayuhan yang optimal, baik saya sisipkan beberapa trik teknik nanjak berikut:

  1. Beberapa meter sebelum mulai menanjak, tempatkan posisi rantai di crank (depan) pada gear kecil dan di sprocket (belakang) pada gear yang besar, sesuaikan dengan kemampuan tenaga Sobat.
  2. Posisi duduk berpindah ke ujung sadel (on your saddle horn), badan condongkan ke depan, posisi kepala mendekati setang, dengan tujuan memindahkan titik berat agar tetap center meski saat menanjak.
  3. Mulai tingkatkan ritme kayuhan, namun jangan menghentak pedal, karena hal ini justru bisa menyebabkan roda depan terangkat dan keseimbangan berantakan.
  4. Pandangan tetap fokus sampai puncak tanjakan.
  5. kayuh terus dan terus, namun jangan terlalu memaksakan diri,
  6. jika langkah-langkah tersebut di atas juga belum membuahkan hasil, pamungkasnya adalah jangan pernah malu untuk menuntun sepeda Sobat, karena inilah jalan terbaik untuk kita semua…hehe..

Tanjakan panjang ekstreem yang pertama ini membuat kami kewalahan juga, tampaknya kami memang belum terbiasa, beberapa rekan dari MBC nampak kocar-kacir mengatur keselarasan tenaga, nafas, dan kayuhan. Sekata-kata jika diperbolehkan, saya lebih suka menamai tanjakan ini sebagai TANJAKAN GEBLEK 1. Meski dengan susah payah, akhirnya sampai juga di ujung tanjakan. Di sini, lagi-lagi tenaga kami terkuras. Untung saja –dalam hati— ‘aki’ Mu’az memutuskan untuk ganti ban dalam yang bocor, karena menghajar trek berbatu sebelumnya, sungguh antisipasi yang patut diapresiasi dan dicontoh ^_^

Di tempat rehat singkat ini, kami berhenti di antara persimpangan, pilih jalan yang benar lurus atau belok kanan ketemu tanjakan ngehek yang super duper. Dan beruntung saja, Pak Sapto selaku captain rider memutuskan rombongan untuk menempuh jalan lurus. Kami pun kembali bertemu jalur sideways dengan kondisi kanan kiri padat bangunan.

Tak berselang lama kami pun dapat bonus turunan panjang, duh…rasanya kayak dapat doorprize lotere gitu.. Dan saking kencengnya personil di depan melaju (Pak Sapto, Aki Mu’az, Budi) mengalami miss koordinasi kecil saat menemui pertigaan, yang ditandai dengan sebuah jembatan, dengan pemandangan kali/sungai dangkal berbatu. Akibat miss koordinasi ini adalah ‘GUBRAAKKKK’, aki Mu’az jatuh tersungkur, meski demikian reflek antisipasi beliau sangat bagus, sehingga tidak terjadi satupun luka serius.

Konon, kali dan jembatan di depan tempat ‘aki’ Mu’az jatuh dikenal sebagai tempat putri mandi. Usut cerita, hal ini dikaitkan dengan kebiasaan warga sekitar –dahulu—memanfaatkan aliran kali ini untuk membersihkan diri, mandi gitu bro.. Namun jangan berharap di era ‘sepeda fullsus’ saat ini, bro dan mabro semua bisa jadi ‘Jaka Tarup’ disana, hehe…

Seperti sebelumnya, setiap di persimpangan kami jadikan check point untuk memastikan anggota rombongan tidak berkurang. Setelah dipastikan lengkap, perjalanan pun berlanjut… check point kali ini ternyata juga sekaligus menjadi starting point bagi rombongan untuk memulai tanjakan-tanjakan ‘geblek’ selanjutnya.

Eh…benar saja, dua tiga sepelemparan galah, kami langsung dihadapkan tanjakan ‘geblek’, 35-40 lah kira-kira elevasinya. Sebenarnya, untuk mendeskripsikan ekstreemnya tanjakan ini kurang tepat jika aktivitas bersepeda di sini disebut ‘nanjak’, mungkin lebih tepat disebut ‘manjat’, climb up with our bike. Nafas panjang diperlukan, atau Sobat akan dipaksa ‘tuntun’. Untuk melaluinya, saya pun ‘ngicik’ abis-abisan, kepala pun hampir nyentuh handlebar. Saya jadikan Pak Sapto trigger/picu motivasi saya kali ini. Sampailah pada penghujung tanjakan kali ini, saya pikir demikian. Namun ternyata oh ternyata…

Ternyata ini adalah tanjakan berundak bro! Suer, tanjakan ber-undak, dengan elevasi antar tanjakan yang kira-kira sama, 35-40, karuan saja nafas jadi ‘senin-kamis’. Saking dahsyat dan ber-undak-nya, lebih tepat jika sesi ini saya sebut sebagi TANJAKAN GEBLEK n, hehe…

Sampai akhirnya saya bersama Pak Sapto di sebenar-benarnya penghujung tanjakan, kami putuskan untuk menunggu rekan-rekan lain selesai ‘manjat’, sembari kami ngadem dan ngobrol soal pengalaman beliau bersepeda. Jujur saja, saya terkagum dengan pengalaman beliau, mulai dari bersepeda seminggu penuh, pengalaman menyambangi trek-trek sepeda populer maupun yang tidak populer di kalangan cyclist, serta pengalaman beliau ‘ngerjain’ cyclist berskala nasional dalam perannya sebagai pioneer tracker untuk even TGP (Trek Gunung Pinang) MTB ENDURANCE dan TGP UPHILL CHALLENGE, November 2010 lalu. Itulah salah satu ‘karya’ beliau. Pak Sapto pun sempat menunjukkan kepada saya hasil rekaman berdurasi beberapa saat tracking ke Merapi, beberapa bulan sebelumnya. Four thumbs dueh pokoknya.

Cukup lama, kemudian munculah aki Mu’az menyusul, menyampaikan bahwa rekan-rekan juga tengah ‘ngaso’ di bawah sana, formasi obrolan pun berubah menjadi 6 mata, sampai akhirnya rekan-rekan lain menyusul satu per satu. Dan…perjalanan pun berlanjut.

Ngos….ngos…ngos….sepertinya perlu bersambung Sob ceritanya…ane ngos…ngos.. ngos.. ni. Ups, tapi jangan berprasangka buruk dulu –kasih laporan kok sepotong-sepotong—ane tetep share cerita ini meski belon kelar dengan tujuan biar kagak basi geto… kisahnye..

Bersambung ye…

Incoming search terms:

sepeda downhillgambar sepeda downhillKOMUNITAS SEPEDA GUNUNGrute sepeda cilegontrek sepedah di cilegonGambar sepedah mtb turing gunung pinanglogo club sepeda gunungkomunitas sepeda mtbtrek bersepeda di serangTREK DEPDA DI CILEGON

4 Comments »

10 Pingbacks »

Leave a comment

Add your comment below. You can also subscribe to these comments via RSS

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar

You might also likeclose