Cycling Reference
Tips & Trick
Health & Fitness
Ensiklopedia
Bike Part & Review
Home » Bike News

Ciclismo en Pista Waringin Kurung – Cibangkong, Tour de Cilegon

Submitted by on 19 April 2011 – 07:09 4 Comments

trek-sepeda-gunungIntermezo, jika ditanyakan pada cyclist pelancong ‘Hispanic’ dari Kulon Banten, tentang apresiasinya terhadap JALUR TREK SEPEDA WARINGIN KURUNG – CILEGON, dalam imajinasi saya mereka akan berkata demikian.

“ciclismo en pista ‘Waringin Kurung’ fue terrible. abrumado a superar ‘Tanjakan Geblek’. De todos modos grande y vale la pena intentarlo amigo!”

–silahkan gunakan google translate buat yang kagak ‘ngeh– Intinya, komentar tersebut menunjukan begitu menantangnya JALUR TREK SEPEDA WARINGIN KURUNG bagi pemula, oleh sebab itu si ‘Hispanic’ tersebut terkesan. Seperti terkesannya kami pada perjalanan yang telah kami tuturkan sebelumnya. Kala itu kami telah berkisah sampai dengan Tanjakan Geblek n, tanjakan berundak, 35-40.

Selepas Tanjakan Geblek n, kami melanjutkannya, dan kemudian kembali bertemu dengan jalan beton dengan kondisi kanan kiri padat bangunan. Meski sudah masuk pemukiman, tetap saja di sini kami disuguhi dengan swing track, vertical U turn yang menggoda. Kami pun tetap ‘ngicik ria’ di sini, dengan tambahan motivasi: ‘warung idaman’ sudah dekat, serta sambutan anak-anak dusun yang sepanjang jalan menyapa kami dengan “selamat pagi Pak…”, padahal posisi matahari kala itu sudah hampir di atas ubun-ubun. Tentu hal-hal tersebut menjadi ‘bahan bakar’ tambahan yang membuat aktivitas nanjak kali ini tak terlalu berat.

Dan, keluar dari pemukiman padat dengan jalan beton, bertemulah kemudian kami dengan turunan curam yang disertai tikungan tajam, ‘bonus jack pot’ yang juga menyimpan potensi resiko. Oleh Tour Guide, rekan-rekan MBC (Mutiara Bike Community) diarahkan untuk berbelok ke kiri. Dan….tralaa…..W  A  R  U  N  G, ini yang dinanti-nanti.

Bak Rombongan Cowboy, yang baru tiba dari pengembaraan, kami mendapati warung (bak bar/Saloon di tengah-tengah kota gurun gersang pada film cowboy) sudah ‘porak-poranda’. Mangkok, piring, gelas berisi sisa teh dan kopi yang tak dihabiskan si empunya, berserak di beberapa meja warung. Kedatangan kami, laksana Rombongan Cowboy yang tengah menjejak buruan, dengan petunjuk jejak berupa sisa ransum, hasilnya adalah dugaan kira-kira kemana arah pengendara ‘kereta angin’ yang lepas berpesta ini pergi. Hehe…he… –banyak nonton pelem ni–

Pemilik warung-warung ini pun menyambut kedatangan kami dengan ramah. Namun, di balik keramahan, mereka mewartakan sebuah ‘berita duka’, “Sudah habis semua Pak..”. Hiks…hiks..cuman bersisa pisang goreng dan teh manis ^_^ Tak apalah..tetap disyukuri, Alhamdulillah… cukup lama juga kami ‘ngadem’ di sini. Usut cerita, warung-warung ini merupakan meeting point para goweser dari berbagai penjuru ‘mata angin’ yang menyengaja nge-track ke wilayah waringin kurung dan cibangkong. Konon, warung ini kesohor dengan ‘Lopis’-nya yang super duper yummy… Next time kami datang lagi untuk mu Lopis sayang…. (bukan Jeniper Lopis lho ya…hehe..).

Setelah sejenak melepas lelah, rombongan pun melanjutkan perjalanan, awalnya kami dihadapkan pada ‘simpang pilihan’, antara memilih jalur jalan raya dengan rute yang lebih dekat dengan tujuan pulang, namun di rute ini kami mesti berbagi trek dengan angkot dan kendaraan lain yang lalu-lalang. Atau memilih trek ‘light XC’ dengan obstacle yang belum pernah kami tahu sebelumnya. Dan…provokasi sebagian senior bangkotan ‘Djeladjah’ pun membuahkan hasil, kami memutuskan menempuh jalur XC.

Baru berjarak 7-8 lemparan galah dari warung Jeniper Lopis, kami kembali dihadapkan pada ‘saudaranya’ tanjakan Geblek, meski tidak ber-undak seperti tanjakan sebelumnya. Namun suasana manjat kali ini agak beda brur… kami manjat dengan hati yang riang dan senyum yang lebih lebar…—gimana gak seneng, lha wong baru saja makan dan minum ditraktir tuan rumah…,hehe..–

Di akhir tanjakan panjang kali ini, interval antar personil dalam rombongan kembali menjadi lebar satu sama lain, mungkin inilah sebab kesenjangan antara ‘average high’ rekan ‘Djeladjah’ dan ‘average low’ tim ‘tamu’. Kembali kami saling tunggu, untuk memastikan rombongan lengkap ketika menemui sebuah tikungan ‘pertigaan’. Kami pun kembali voting, antara lurus atau belok kanan. Pilihan pun jatuh pada belokan kanan, dengan penjelasan kondisi trek tunggal, jalan tanah, pemandangan kanan-kiri berupa kebon salak, jalan kali ini pun menurun. Nampak cekungan-cekungan bekas roda moda transportasi si pengangkut hasil kebun, so…tetap jaga handling dengan baik bung!

Single trek dengan kondisi jalan tanah yang kami lalui tersebut ternyata tidak begitu panjang. Perjalanan kemudian berlanjut dengan melewati trek ‘side ways’ bergelombang, relatif datar namun cenderung menurun. Bagi kami inilah bonus kecil, setelah sebelumnya berjibaku dengan tanjakan-tanjakan ‘geblek’ yang ‘ngicik’ abis.. Disebut pula ‘bonus’ karena kali ini kayuhan pedal terasa ringan dan bahkan jarang, karena dengan begitupun sepeda mampu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata… Inilah mungkin yang juga disebut sesi ‘cooling down’.

Justru dalam sesi jalan pulang ini, beberapa rekan dalam rombongan kami sempat tertinggal jauh, ternyata karena sebab ‘ban bocor’ yang kala itu menimpa ‘mosso hitam’nya Mas Bambs. Belakangan pun baru kami tahu kalo ‘aki’ Mu’az kembali tersungkur untuk kedua kainya, akibat miss koordinasi dengan goweser ‘newbie’ yang bergabung di tengah perjalanan kami. Lukanya lumayan lebar, tepat di lutut ‘XTR’-nya, hehe… Gara-gara kecelakaan ini, si aki terpaksa pulang ‘mboncengin anak Jin’, iya, khiasan ini untuk mendeskripsikan beratnya kayuhan sepeda fullsus aki Mu’az yang bertambah bobot 20 kiloan (katanya) akibat setting roda belakan dan disc breaknya yang bergeser…duh ‘aki’… Meski demikian, Alhamdulillah, kekompakan kami tetap terjaga sampai mendekati akhir perjalanan ini, sehingga hambatan-hambatan yang ditemui pun menjadi tidak begitu mengganggu 🙂

Meski begitu terik cuaca kala itu, pada akhirnya kami pun tiba di finish dengan lengkap, suasana hati ‘sumringah’ (senang-jawa), dan kepuasan tersendiri yang menyertai jika terbayang saat-saat kami berhasil menaklukkan tanjakan ‘Geblek Bersaudara’. Bravo Rekan-rekan ‘Djeladjah’, Bravo Kawan-kawan ‘MBC’ 🙂

Kisah perjalanan ‘Tour de Cilegon’ pun ditutup dengan pesta kecil, dengan hidangan ala kadarnya, ’SOTO DAN SATE BEBEK CIBEBER’, kwek..kwek…kwekkk….

Jika ditanyakan mengenai komentar penutup perjalanan ini pada kawan imaji ‘Hispanic’ saya, kira-kira beliau akan berkata demikian:

Soto y cibeber Pato Satay es delicioso. Manténgase saludable mantiene un espíritu, por lo que aún puede montar

Karena ‘Insya Alloh’ saya berusaha menjadi baik, maka kali ini saya terjemahkan komentar rekan saya tersebut, demikian “Soto dan Sate Bebek cibeber memang mak’ nyus. Tetap sehat tetap semangat, supaya kita tetap bisa sepedaan”. Salam Olah Raga!

4 Comments »

1 Pingbacks »

    Leave a comment

    Add your comment below. You can also subscribe to these comments via RSS

    Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

    You can use these tags:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

    This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar

    You might also likeclose